Istiqlal 30 September 2018 - Tiada Akhir
Alhamdulilah semua personil Istiqlal telah berhasil mencapai satu mimpinya yaitu Gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan dari berbagai drama yang di hadapi selama menjadi seorang mahasiswi.
10 November 2020 menjadi bukti sejarah saya dan Maulida Hafni Panjaitan S.IP dalam penyelesaian tugas akhir yang di sebut skripsi guna mendapatkan gelar Sarjana.
18 Febuari 2020 Menjadi bukti sejarah Syahdan Yuliana S.IP dan Kurnia Sandi S.IP dalam penyelesaian tugas akhir yang disebut skripsi guna dapatkan gelar Sarjana.
Awalnya kami berempat memiliki keinginan untuk mendapatkan gelar dengan waktu yang sama. Namun beberapa alasan menjadikan keinginan itu tidak terwujud. Tapi tidak apa-apa karena pada akhirnya setiap rezeki dan jalan cerita orang berbeda-beda. Tamat pada waktunya atau tamat pada waktu yang tepat. Alhamdulilah semua personil Istiqlal tamat pada waktu yang tepat dengan predikat IPK yang luar biasa π₯π₯π₯π₯.
Berawal dari pertemanan Karena untuk menyelesaikan tugas kuliah yang diberikan oleh dosen saat itu untuk mengasah kemampuan setiap mahasiswanya (Entar kita cerita siapa dosennya, inisial 3 huruf panggilan). Sebuah grup pertemanan yang dibuat dari latar belakang membahas ide berlian yang akan langsung di eksekusi ketika duduk di bangku perkuliahan. Banyak sekali ide berlian yang dikeluarkan dari empat fikiran mahasiswi ilmu perpustakaan ini. Dari berawal ide yang hanya untuk menyelesaikan tugas kuliah hingga ide yang tidak ada sangkut-pautnya dengan tugas perkuliahan. Itulah awal dari beberapa ide untuk menyelesaikan masa perkuliahan untuk mencapai gelar sarjana ilmu perpustakaan di kampus Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Menjadi sebuah cerita yang panjang tentang 4 persahabatan mahasiswi ini.
Banyak drama yang telah kami lewati berempat selama masa perkuliahan untuk menyandang gelar sarjana ilmu perpustakaan. Baik drama dari sisi perkuliahan maupun dari sisi pribadi masing-masing. Tapi pada akhirnya semua itu hanyalah sebuah warna untuk menghiasi coretan-coretan cerita dalam sejarah perjalanan hidup kami berempat. Aku tidak tahu bagaimana pandangan mereka terhadap kehadiranku dalam perjalanan hidup mereka tapi yang ku tahu mereka adalah orang-orang penting yang menjadikan aku yang sekarang.
Aku yang mulai percaya terhadap sebuah hubungan pertemanan dari sekian lamanya tidak mempercayai itu. Karena hanya ada ketakutan dalam fikiranku untuk dikhianati ketika aku mempercayai sebuah arti sebuah pertemanan. Dan karena juga lebih banyak berteman dari beda gender alias kebanyakan teman cowok. Tapi mereka membuktikan bahwa mereka layak menjadi seorang sahabatku dan menjadi orang penting dalam cerita perjalanan hidupku.
Mereka adalah orang-orang yang memberikan support yang besar dan tidak mungkin untuk aku balas dari setiap jasa yang pernah mereka berikan. Sebuah kisah keterpurukan dari seorang aku yang tidak memiliki apa-apa, hanya sebuah mimpi yang mungkin orang lain akan merendahkannya. Jasa kebaikan yang tidak akan pernah terlupakan dalam kehidupan. Bagiku mereka adalah perantaraan Tuhan yang dikirimkan untukku pada masa perkuliahan dan jauh dari kampung halaman.Sebuah mimpi yang sama tapi dari golongan orang-orang yang berbeda.
Waktu yang sering dihabiskan bersama untuk menyelesaikan tugas kuliah menjadikan kami lebih erat dan saling mengetahui satu sama lain dalam urusan pribadi masing-masing. Menjadi tempat untuk bertukar fikiran dari setiap masalah yang dihadapi masing-masing. Membagi suka dan duka bersama dalam proses waktu di kala itu. Menjadikan mereka bukan hanya sebagai seorang teman dalam satu wadah yang sama tapi menjadikan mereka seorang sahabat sebagai tempat keramaian di ketika kesunyian di kota perantauan.
Drama kecemburuan aku yang gak suka lihat mereka dekat dengan orang lain. Mustahil itu tidak ada, tapi itu sudah biasa karena kenyataannya kita bukanlah salah satu lingkaran pertemanannya. Drama tentang tidak sependapat dalam beberapa hal. Masih banyak drama lainnya yang tidak mungkin di tuangkan seluruhnya. Tapi itulah warna dari sebuah cerita tentang sebuah hubungan persahabatan. Aku rindu melalak bareng kalian, aku juga rindu mengasa kemampuan teori yang di dapat dari kampus untuk terjun langsung ke lapangan. Aku rindu tentang kita yang bersama.
Coretan kecil ini aku persembahankan untuk kalian dari sudur pandangku selama ini. Biarlah tulisan ini sebagai dokumentasi atas cerita kit, hahhahahah
Syahdan Yuliana S.IP , seorang mahasiswi perantauan yang berasal dari kabupaten batubara. Aku memanggilnya dengan sebutan Yuli. Yuli yang sejak awal masuk perkuliahan sudah menjadi seorang yang dekat padaku. Seseorang yang selalu menjadi ojekku kemanapun kami melangkah pada jalanan kota Medan. Kami berdua sering mengasah skill untuk magang mandiri di berbagai perpustakaan yang bisa kami masuki tanpa adanya surat. Mencari pengalaman dari apa yang sudah kami dapatkan di bangku perkuliahan, begitulah sifat mantan siswa yang berasal dari siswa kejuruan. Yang lebih suka terjun ke lapangan daripada sebuah teori. Sifatnya yang baik, polos, dan terkadang tukang lupa sudah menjadi ciri khasnya π. Tapi ku akui dia cerdas dalam beberapa aspek π€. Sosoknya juga termasuk seorang wanita yang mandiri dan memiliki skill ya tersendiri, contohnya bisa menjahit. Dia yang paling polos di antara kami berempat dan juga paling pelupa.
Maulida Hafni Panjaitan S.IP, seorang mahasiswi yang berasal dari kota Medan yaitu martubung. Aku memanggilnya imol. Kami mulai dekat sekitar semester 3 ke-4. Karena sering melakukan tugas bersamaan membuat kami menjadi lebih dekat yang tadinya hanya sekedar teman biasa menjadi sahabat yang luar biasa. Nah, kalau yang satu ini merupakan seorang wanita yang luar biasa dikarenakan kemandiriannya dan juga super baik sama semua orang tapi kalau udah marah hmmm serem π. Kuliah sambil kerja, walaupun latar belakangnya ayahnya ada jabatannya tapi dia tidak sombong dan juga manja. Dia kuliah sambil kerja, patut apresiasinya. Dia juga orang yang selalu jadi ojek aku kemana-mana di semester 7 dan 8. Sifatnya yang mandiri, baik, penyabar dan cerdas. Dia yang paling sabar dan juga dewasa menghadapi setiap masalahnya sendiri.
Kurnia Sandi S.IP, seorang mahasiswi perantauan yang berasal dari kota Tanjungbalai. Aku memanggilnya dengan sebutan Nia. Kami mulai dekat sekitar semester 3 ke-4 yang juga waktu itu untuk membentuk suatu itu grup dalam menyelesaikan tugas kuliah, sama seperti Imol. Kalau Dia ini mungkin hampir sama sosoknya seperti aku dalam segi cerewetnya π. Tapi dia yang paling banyak heboh dan juga lebih banyak pengetahuan pengalamannya soal jantan dan juga per makeupan π. Dan dia yang paling mudah sakit di antara kami berempat setelah si Yuli πππ.
Untuk kalian sahabat Istiqlal
Terimakasih atas ceritanya
Cerita perjalanan masa perkuliahannya
Cerita persahabatan yang akan selamanya
Cerita suka duka selama 4 tahunnya
Terimakasih atas support masa ini dan nanti
Support penyemangat pada diri yang lemah ini
Selalu menjadi tempat ketika sendiri
Di perantauan dengan sejuta mimpi
Aku yang selalu emosi
Dengan sabar kalian mengerti
Aku yang selalu mendominasi
Dengan baik kalian ikuti
Terimakasih menjadi bagian cerita hidup ini
Tanpa kalian aku tidak berarti
Mungkin hanya kenangan kosong tanpa arti
Sekarang menjadi silahturahmi kenangan di nanti
Berakhirnya perjuangan Sarjana ini
Bukan sebagai akhir dari persahabatan ini
Tapi awal cerita perjuangan yang akan di nanti
Sejarah cerita langkah awal yang kita nanti
Selamat atas gelar kalian
Semoga ini menjadi awal mimpi kalian
Tentang cita-cita dan juga harapan
Yang selalu kalian inginkan
Aku tau kita akan berbeda jalan
Aku tau kita akan berbeda waktu
Aku tau kita akan berbeda mimpi
Tapi doa baik selalu aku beri
Untuk kalian sahabat Istiqlal sampai surga nanti
Ceritanya singkat aja, entar lengkapnya kita buat π€. Ini hanyalah coretan cerita kecil dari aku sang penulis bawang yang suka alay



