Aku pernah melepaskan sebuah rasa cinta. Mengingat rasa
itu, aku kecewa tapi itu adalah pilihan terbaik yang ku punya. Kata cinta yang
hanya dapat di pahami ketika aku mengalaminya. Itu adalah rasa cinta yang
pertama kali aku rasakan selama ini. Cinta pertama yang tidak pernah terlupakan
oleh seorang gadis monochrome. Seorang gadis yang hanya memiliki dua warna
kehidupan yaitu hitam dan putih tanpa adanya warna lain. Dengan hadirnya first love mengubah sang gadis
monochrome menjadi gadis yang lebih berwarna. Namun semuanya hanya menjadi
sebuah kenangan yang tidak akan pernah ku lupakan.
Saat ini
cuaca menunjukkan akan turun hujan, dengan awan hitam yang tebal terlihat jelas
di langit-langit yang sudah tak biru lagi. Aku sedang menyusun beberapa barang
yang akan aku bawa ke tempat tinggal ku yang baru. Alhamdulilah aku lulus di
PTN berbasis islami di provinsi tempat ku dilahirkan. Aku menyewa 1 kamar kos-kosan
putri di dekat kampus itu, kira-kira hanya membutuhkan 1 kali naik angkutan
umum untuk sampai ke kampus dengan biaya ongkos Rp.2000,00. Rumahku berada di
pedesaan pinggiran pantai sedangkan kampusku berada di ibu kota provinsi
tempatku tinggal. Makanya aku mempersiapkan beberapa keperluan ku untuk tinggal
di kos dan hidup mandiri tanpa orang tua di kota.
Ketika
aku asyik membereskan barang-barang yang di perlukan, tanpa sengaja kotak merah
dengan corak love jatuh dari atas lemari ku. Tangan kanan ku pun mengambil
kotak itu dan membukanya. Terlihat sebuah kalung berbentuk love dengan ukiran
nama ku dan dia. Di dalam kotak itu juga terdapat sebuah fotonya dengan
menggunakan baju hitam dan ekspresi tersenyum indah. Yah, dialah my first love. Air mata ku yang keluar
secara tiba-tiba tanpa kusadari jatuh di foto yang sedang aku pegang di tangan
kananku. Hujan turun dengan deras menyambut air mataku yang menetes. Kotak
merah itu adalah hadiah pemberiannya di ulang tahun ku yang ke 15 tahun. Aku
menangis mengingat semua kenangan manisku padanya, karena dialah yang mengubah
hidupku lebih berwarna.
“Iky? Masih ingatkah pada ku? Saat ini aku berhasil masuk
ke PTN yang ku inginkan? Apa mungkin aku bisa kembali bersama mu lagi?” ucap ku
sambil memandangi fotonya.
Iky Padly, itu namanya. Seorang lelaki yang memiliki
ciri-ciri fisik hidung yang mancung, alis yang tebal, lesung pipi yang dalam,
badan yang tinggi di usiannya, bentuk wajah yang oval dan gigi ginsul di
sebelah kanan yang terlihat ketika di sedang tersenyum maupun tertawa. Dan yang
membuat ku jatuh cinta pada dirinya bukanlah kesempurnaan fisiknya melainkan
perhatiannya padaku, kecerianya dan kata-kata manisnya. Iky merupakan anak
kedua dari 4 bersaudara dan merupakan satu-satunya anak laki-laki di
keluarganya. Sebuah keluarga yang memiliki latarbelakang yang kaya dan
terpandang.
Ingatan yang masih jelas saat pertama kali Iky menyatakan
perasaannya dengan ku. Saat itu, sebuah pohon rindang sebagai peneduh ketika
rasa mulai terungkap dan matahari yang menyinari seluruh bumi sebagai rasa
berani untuk mengungkap rasa yang telah lama terpendam. Saat itu kami berdua
sedang duduk di bawah sebuah pohon rindang di siang hari setelah aku pulang
dari sekolah. Sesuai dengan janjinya ia ingin mengatakan sesuatu padaku sebelum
ia kembali ke kota tempat tinggalnya.
“Wika, terimakasih,” ucap Iky setelah sekian lama aku
menunggu apa yang ingin ia katakan.
“Untuk?”
“Terimakasih telah menjadi teman ku ketika disini, ketika
aku sedang berkunjung ke rumah nenek,” jelasnya.
“Terimakasih kembali dan maaf karena tidak bisa menjadi
teman yang baik,” mohon ku padanya karena selama ini aku selalu menyebalkan.
“Tidak, kau yang terbaik dari yang terbaik. Kata kasar mu
yang mengubahku dan mulai sejak itu aku mencintai mu dan sangat ingin tinggal
di sini lebih lama lagi,” jelasnya lagi.
“Tunggu! Kau tadi bilang mencintai ku?” tanya ku yang
terkejut dengan wajah bingung yang memandang wajahnya.
“Iya, aku mencintai mu! Tidak perlu di jawab dulu, ketika
aku datang berkunjung lagi akan ku tagih jawaban mu!”
“.......” aku hanya terdiam sambil memandang wajahnya
yang tersenyum padaku.
“Sudahlah, keluarga ku sudah menunggu untuk pulang ke
rumah. Aku pamit Wika pesek!” ucapnya sambil mengelus kepala ku dengan
tangannya lalu pergi meninggalkan ku di bawah pohon.
Setelah ungkapan cinta itu, aku memikirkan sesuatu yang
berubah pada diriku. Seorang wanita tomboy yang hanya bisa berkata kasar,
berprilaku seperti laki-laki dan tidak memiliki teman karena tidak pernah
percaya akan sebuah kepercayaan pada orang lain. Pertemuan ku yang pertama
dengan Iky adalah ketika Iky pertama kali datang di desaku. Saat itu ia sedang
asyik bermain pasir, tiba-tiba ada ular laut yang mendekatinya yang hampir saja
ular itu menyakitinya jika aku tidak datang mengusir ular itu.
“Dasar bocah laki-laki bodoh!!!” teriak ku sambil
mengusir ular di hadapannya dengan sebuah tongkat kayu sekitar semeter itu.
“Terimakasih. Siapakah nama mu?” ucap Iky ketika aku
selesai mengusir ular itu.
“.....” aku hanya diam dan pergi meninggalkannya.
Sejak saat itulah ia terus mencari keberadaan ku dan
membuatnya tidak menyerah untuk menjadikan ku sebagai temannya. Karena bagiku
mungkin setelah aku mau berteman dengannya, dia tidak akan menyebalkan lagi.
Namun aku salah, ia semakin menyebalkan sampai pada akhirnya dalam beberapa
hari telah mengubah ku yang jarang tertawa dan sulit mempercayai orang lain
menjadi sering tertawa karena ulahnya dan mempercayai arti sebuah pertemanan.
Hanya dalam seminggu ia mampu menjadi jembatan pelangi yang memberikan warna di
setiap waktu yang telah terlalui di kehidupanku yang selalu menyendiri. Setiap
ia berkunjung kerumah neneknya aku selalu menjadi temannya di desa ini. Dan
akupun menerima cintanya di hari ulang tahun ku yang ke 15 ketika ia kembali
untuk meminta jawaban dari janji yang sudah 5 bulan itu. Kado ulang tahun yang
berisi kalung dengan liontin love terukir namaku dan namanya menjadi kado
terindah yang pernah ku dapatkan.
Mengingat semua itu membuatku terus menangis di derasnya
hujan saat ini menjadi musik pengantar kenangan itu. Sampai pada akhirnya
akupun tertidur dan kemudian di bangunkan oleh adikku untuk menunaikan ibadah
sholat magrib berjamaah. Saat makan malam keluarga, Ayah dan Ibu ku memberikan
support yang besar untuk keputusan ku mengejar mimpi ku untuk kuliah di kota.
Ayah, Ibu dan adik ku akan mengantarkan ku besok ke indekos putri tempat
tinggal ku selama menjalani pendidikan dan akan kembali ke rumah untuk
berkumpul kembali ketika liburan.
Waktu pun terus berjalan hingga tidak terasa sudah hampir
3 tahun aku menjadi mahasiswi di Universitas Islam ini. Yang menjadi tempat
favoriteku adalah perpustakaan, lebih tepatnya ruangan referensi perpustakaan
yang berada di lantai 2. Membaca merupakan salah satu hobi ku dari dulu hingga
sekarang. Saat ini aku ingin membaca buku undang-undang perpustakaan karena aku
mengambil jurusan ilmu perpustakaan. Saat aku mengambil buku itu tiba-tiba saja
aku kejatuhan sebuah buku undang-undang perdata.
“Brukkk”
“Au.....sakit,” ucapku sambil mengelus kepala yang
terkena buku itu.
“Maaf aku tidak sengaja,” ucap seseorang yang telah
menjatuhkan buku itu.
“Iky!” kaget ku.
“Wika! Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.
“Bacalah bodoh, lalu ngapain?” ucap ku yang masih
kesakitan karena kejatuhan buku itu.
“Maksud ku mengapa kau ada di perpustakaan kampus ini? Ahh
sudahlah ayo jalan dan duduk dulu di kursi baca itu!” ucapnya sambil menarik
tangan ku untuk mengikuti perintahnya.
“Apakah masih sakit?” ucapnya sambil mengeluskan
tangannya di kepala ku yang kejatuhan buku itu.
“Sedikit, kenapa perlakuan mu ini masih sama seperti
dulu? Apakah kau sudah memaafkan kesalahan ku?”
“Sudah lah jangan bahas masa lalu. Sekarang atau yang
dulu merupakan waktu yang sudah berbeda. Dan kau pun masih sama kasarnya
seperti yang dulu”
“Hahahhaa,” kami berdua tertawa keras sampai di suruh
keluar oleh pustakawan karena terlalu berisik.
Kami berdua pun keluar dari perpustakaan dan memutuskan
untuk pergi ke kantin kampus. Aku menceritakan mengapa aku di kampus ini dan
Iky pun menceritakan mengapa ia tadi berada di perpustakaan. Ternyata Iky
adalah mahasiwa tingkat akhir di kampus ini. Iky mengambil jurusan hukum
seperti apa yang ia cita-citakan itu. Saat ini Iky sedang menyusun skripsinya
makanya ia pergi ke perpustakaan untuk mencari sumber referensi. Saat itu aku
sebenarnya ingin sekali berlama-lama dengannya dan mempertanyakan bagaimana
kabarnya selama 7 tahun belakangan ini, namun waktu tidak memungkinkan karena
aku harus masuk kelas. Dan kami pun berpisah dengan saling memberikan kontak
whatsapp. Aku pun pergi meninggalkannya di kantin kampus menuju ke kelas ku.
“Bego!!! Jangan pernah berfikir untuk bisa kembali
mendapatkan cintanya setelah apa yang telah kau lakukan! Sudahlah lebih baik
aku tidur sekarang karena besok pagi ada jam kuliah dan siangnya aku harus
pergi bersama Iky ke perpustakaan daerah,” ucap ku malam ini setelah menerima
sebuah pesan dari Iky.
Iky
meminta ku menemaninya di hari sabtu siang untuk keperpustakaan daerah mencari
beberapa bahan referensi untuk skripsinya. Yah, setelah kami bertemu waktu itu
kami sering berkomunikasi melalui whatsapp dan sesekali kami bertemu di
perpustakaan kampus maupun di kantin kampus untuk makan siang bersama. Malam
ini aku mendapatkan ajakkan Iky untuk menemaninya ke perpustakaan daerah
mencari bahan referensi berhubung aku anak jurusan ilmu perpustakaan yang lebih
paham dengan kode-kode klasifikasi koleksi baik buku maupun koleksi lainnya.
Katanya dengan membawa ku akan mempermudah ia mendapatkan bahan referensi yang
di perlukannya. Dan beberapa waktu yang lalu kami sering ke perpustakaan kampus
adalah untuk membantunya mencari bahan referensi.
Pukul
11.00 Wib, perkuliahan ku berakhir. Aku pun keluar dalam kelas dan ternyata di
parkiran sepeda motor di depan kelas Iky sudah menunggu ku. Aku pun
menghampirinya dan menaiki kendaraan sepeda motor Trail miliknya lalu pergi
menuju ke perpustakaan daerah. Iky membawa sepeda motor dengan kecepatan
60km/jam hingga membutuhkan waktu 30 menit sampai di tempat tujuan. Kami pun
masuk ke dalam perpustakaan dan mencari bahan referensi untuk skripsinya. Hanya
sedikit saja bahan koleksi yang di perlukan untuk tambahan di dalam skripsi Iky
sehingga hanya membutuhkan waktu 3 jam saja skripsinya selesai. Iky sudah
mendapatkan jadwal sidang hijaunya seminggu lagi, maka ia harus mempersiapkan
skripsinya dengan sebaik mungkin.
Setelah menyelesaikan
skripsi itu di dalam perpustakaan, kami pergi menuju Mesjid Al-Jihad yang
berada di dekat perpustakaan daerah itu karena kami belum menunaikan ibadah
sholat Zuhur. Ketika kami sudah selesai melaksanakan sholat Zuhur, Iky mengajak
ku ke sebuah Cafe dengan nama CIC yang merupakan singkatan dari Cafe Ice Coffe. Cafe itu menyediakan beberapa
menu Ice Cream dan Coffe sebagai menu utama dan ada juga beberapa makanan dan
cemilan lainnya. Iky memesankan ice cream alpukat tanpa coklat 1, steak 2,
lemon tea 2 dan kentang goreng 1. Tanpa bertanya pada ku, Iky memesankan
makanan itu. Aku pun hanya tersenyum melihat tingkahnya dan jujur ketika aku
sampai di CIC jantung ku berdebar kencang dengan perasaan dan fikiran mengatakan
bahwa Iky masih mencintai ku. Namun semua itu hanya perasaan dan fikiran yang
lewat saja yang tiba-tiba hancur ketika ada seseorang wanita datang di meja
kami.
“Hey! Mengapa kau di sini?” ucap wanita yang berdiri di
meja kami.
“Makan, lalu mau ngapain lagi? Dan kau mengapa disini?
Bukan kah kau sedang ada magang di rumah sakit paman mu?” tanya Iky pada wanita
itu.
“Aku bosan, jadi aku ingin makan ice cream di sini.
Kebetulan sekali, tadinya aku ingin mengajak mu menemani ku kesini. Boleh aku
duduk di sini?” ucap wanita itu yang langsung duduk di kursi dekat Iky sebelum
kalimatnya berakhir.
“Silahkan,” ucap ku.
“O ya perkenalkan ini Wika, dan ini Viola Aliska,” Iky
yang memperkenalkan kami berdua.
“Viola calon tunangan Iky Padli,” ucapnya sambil menerima
uluran tangan ku dan membuatku terkejut dan merasa sakit di dada mendengar
kalimatnya.
“Hssstttt! Tidak Ka, jangan di fikirkan dia memang sering
bercanda,” ucap Iky.
“Kan memang benar bahwa ayah mu dan papa ku akan
menjodohkan kita ketika aku sudah tamat di kedokteran dan kau sudah menjadi
pengacara di kantor ayah mu,” ucap Viola.
Aku hanya diam saja mendengarkan perbincangan mereka.
Hati ku sakit, ingin rasanya aku segera pergi dari tempat ini untuk
mengeluarkan air mata. Namun semua itu aku tahan dengan senyuman. Pelayan cafe
datang membawa pesanan kami yang memecahkan suasana canggung tadi dan tiba-tiba
saja Viola mau merebut Ice cream ku.
“Ini ice cream untuk ku Ky?” ucap Viola sambil mengambil
ice cream yang sudah di letakkan di meja oleh pelayan yang membawanya tadi.
“No, pesan sendiri Vio! Bersikaplah sopan di depan teman
ku karena ini miliknya,” ucap Iky sambil merebut ice cream.
“Tidak apa-apa Ky kalau Vio menginginkannya. Mbak saya
pesen satu lagi ya tanpa coklat seperti tadi,” ucap ku pada pelayan itu sambil
memberikan ice cream pada Viola.
“Ya sudah deh, lagian ini ice cream kok gak ada coklatnya?
Ini untuk mu saja biar aku pesan yang baru. Aku pesan 1 ice cream coklat lumer
dan pesanan dia tadi tidak jadi,” ucapnya pada pelayan dan memberikan ice cream
ku kembali.
“Karena Wika alergi coklat. Lucu kan alerginya? Seorang
wanita yang biasaya menyukai coklat tapi Wika malah tidak bisa memakannya,”
ucap Iky pada Viola.
“Wanita aneh,” ucapnya dengan berbisik kepada Iky yang sebenarnya
aku mendengarnya.
Iky hanya memperingati Viola untuk lebih menjaga
ucapanya. Lalu kami bertiga memakan pesanan yang sudah ada di meja. Viola pun
pergi meninggalkan kami berdua karena mendapat telepon dari pamannya.
Sebenarnya Viola meminta Iky untuk mengantarkannya ke rumah sakit namun di
tolak Iky walaupun aku sudah meminta Iky untuk mengantarkannya. Viola pun pergi
dengan ekspresi wajah yang marah. Setelah Viola meninggalkan kami berdua, Iky
mengantarkan ku pulang dengan tidak banyak bicara seperti biasanya. Saat sampai
di indekos ku Iky mulai menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan besar ku di
hati ini dari kejadian di cafe itu.
“Ka! Bisakah aku berbicara pada mu sebentar sebelum kau
masuk?” ucapnya sambil meraih kedua tangan ku dengan tangannya.
“Ada ap?”
“Bisa kah kau memberikan kesempatan lagi untuk ku
mencintai mu? Jujur aku belum bisa melupakan mu dari dulu hingga sekarang. Aku
masih belum bisa menerima keputusan mu meninggalkan ku tanpa alasan yang jelas
di waktu itu. Marah, kecewa, benci yang aku rasakan waktu itu tapi entah kenapa
aku tidak bisa tidak mencintai mu. Maka selama 8 tahun setelah kejadian itu,
aku tidak pernah lagi ikut bersama kedua orang tua ku untuk berkunjung ke rumah
nenek. Dan itulah yang membuat ayah ku menjodohkan ku dengan Viola, untuk bisa
melupakanmu. Aku tidak mencintai Viola, aku hanya mencintai mu. Bisa kah kau
memberikan kesempatan pada ku lagi untuk membuatmu mencintai ku?” jelas Iky
dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Maaf, aku sungguh minta maaf Ky! Jika itu adalah pilihan
keluarga mu maka ikutilah, mungkin itu yang terbaik buat mu,” ucap ku sambil
mengeluarkan air mata.
“Tidak bisa kah kau membuka hati mu pada ku sedikit saja?
Beri aku kesempatan lagi?” ucap Iky sambil menghapus air mata ku dan kemudian
memeluk ku.
“Maaf aku tidak bisa,” jelasku sambil ingin melepaskan
pelukkannya.
“Bisakah sebentar saja seperti ini? 30 detik saja cukup,”
mintanya.
“Baiklah”
Angin sore yang berhembus memberikan kesejukan sebagai
pelengkap ketika kami sedang berpelukan. Aku pun pergi meninggalkan Iky yang
masih berada di gerbang kos ku. Setelah kejadian itu aku berusaha menghindari
Iky selama di kampus dan aku pun tidak datang ke sidang meja hijaunya. Padahal
Iky sudah menyuruhku untuk datang menemaninya, namun nomornya aku blokir di
kontak ku. Aku benar-benar harus meninggalkan Iky walaupun sebenarnya aku
menginginkan dirinya untuk selalu di dekat ku.
Beberapa pun telah berlalu setelah kejadian itu, tiba
waktunya ujian semester dan setelah ujian semester berakhir akan ada acara
kelulusan setiap tahunnya. Sebenarnya ketika Iky sedang menyusun skripsinya,
aku juga sedang menyusun skripsi ku dengan target 3 tahun setengah aku harus
lulus dan mengambil beasiswa S2 ke luar negeri. Dan alhamdulilah aku lulus di
salah satu Universitas terbaik di negara Kanada. Karena jadwal keberangkatan ku
dengan jadwal wisuda kampus sama maka aku tidak dapat menghadirinya. Aku pun memberikan
sebuah kotak hadiah pada Iky untuk memberikan sebuah penjelasan alasan ku yang
tidak pernah ku katakan sebelumnya. Hadiah itu aku titipkan kepada seorang
teman sekelasnya yang juga wisuda bareng dengan Iky, aku mengenalnya ketika
sering makan siang bersama Iky di kantin kampus. Hadiah itu berisi sebuah kotak
kecil merah bercorak love, sebuah surat dan dasi berwarna silver. Yah, kotak
kecil merah itu adalah hadiah ulang tahun ku yang ke 15 dari Iky.
Setelah acara wisuda di kampus selesai Iky bersama
keluarganya membuat sebuah syukuran di rumahnya atas kelulusan dirinya. Di
dalam kamar Iky, Iky membuka hadiah pemberian ku setelah acara di rumahnya
selesai. Ketika Iky membuka hadiah dari ku dia pun sudah mengetahui siapa
pengirim hadiah ini yang dari tadi membuatnya penasaran karena sahabatnya
mengatakan bahwa hadiah ini adalah hadiah paling penting bagi dirinya. Kemudia
Iky membaca surat ku..............
Dear : Iky Padli
Hey
cowok bodoh, selamat atas gelar SH mu. Semoga ilmu yang kau dapat bermanfaat
bagi orang banyak dan dapat membantu orang-orang kurang mampu di luar sana untuk
menegakkan hukum di negara ini. Seperti mimpi mu yang menjadi pahlawan di
bidang hukum untuk rakyat, tapi jangan banyak-banyak meminta imbalan pada orang
miskin ya, tapi boleh meminta imbalan untuk orang-orang kaya. Hehehhe. O ya aku
minta maaf tidak menepati janji ku untuk datang menemani mu di sidang hijau
bahkan tidak datang di acara wisuda mu ini.
“Dasar cewek pesek yang kasar, selalu saja mengataiku
bodoh. Aku pasti akan menjadi pengacara hebat, lebih hebat dar ayah ku,” ucap
Iky sambil membaca suratku.
Terimakasih sudah mencintai ku
selama itu. Terimakasih tidak membenci ku walaupun kau sudah aku sakiti.
Terimakasih sudah menjadi salah satu cahaya ku ketika aku tidak memiliki
impian. Kau masih ingat mengatakan “Kenapa kalau orang desa memiliki mimpi
untuk keluar negeri, mengejar pendidikan yang baik menjadi seorang yang sukses.
Bukan kah semua orang memiliki hak yang sama untuk bermimpi? Bermimpilah Wika,
aku yakin kau akan menjadi seseorang yang luar biasa di masa depan jika kau
tidak pernah mau menyerah dengan keadaan. Lewati semua itu, aku akan bersama mu
dan akan aku tunggu di hari itu.”
“Sudah menjadi tugas ku mencintai mu dan selalu mendukung
mu Ka!” lanjut ucap Iky ketika membaca surat ku.
Kau tau Ky? Hari ini aku mewujudkan
salah satu mimpi ku lagi. Aku diterima di salah satu Universitas terbaik di
negara Kanada. Saat aku membantumu menyusun skripsi mu saat itu sebenarnya aku
juga sedang menyusun skripsi ku dan belajar lebih keras untuk mendapatkan
beasiswa ini dengan menargetkan akan lulus dengan waktu secepat mungkin. Aku
berhasil Ky, sesuai dengan perkataan mu bahwa aku akan mendapatkan pendidikan
di luar negeri jika aku tidak pernah menyerah dengan keadaan. Terimakasih atas
kalimat penyemangat mu yang mampu mengubah hidup ku saat ini. Terimakasih telah
memberikan warna lain ketika aku hanya tau warna putih dan hitam dalam hidup.
Terimakasih telah menjadi teman pertama ku dan cinta pertama ku.
Terimakasih.........
“Cinta pertama? Maksudanya ?” ucap Iky yang semakin
bersemangat membaca suratku.
Aku mencintai mu Ky dari pertama kau
mengucapkannya hingga saat ini, aku tetap mencintai mu. Sebuah kalimat
pernyataan yang selama ini tidak pernah ku ucapkan pada mu, sebuah pengakuan
yang tidak pernah aku sampaikan pada mu. Kali ini izinkan aku mengungkapkan
semuanya. Alasan mengapa aku mengatakan tidak mencintai setelah apa yang kau
lakukan karena aku merasa tidak pantas menjadi orang yang kau cintai. Dengan
latar belakang keluarga, fisik, dan harta semua itu bertolak belakang dengan
kehidupanku. Walaupun aku tau kau dan keluarga mu tidak akan pernah
mempermasalahkan itu. Tapi apa yang akan orang lain fikirkan nantinya??? Maka
aku berusaha dan berjuang hingga saat ini hanya untuk menjadi pantas buat mu
dan keluarga mu dan juga buat keluarga ku dan diriku sendiri.
“Mengapa harus memikirkan orang lain? Kalau kau
mengetahui aku dan keluarga ku tidak mempermasalahkan itu mengapa kau harus
pergi dan tidak mau menemuiku ketika waktu itu, lalu kau mengatakan tidak
mencintai ku. Jadi inikah alasannya mengapa kau berbuat seperti itu Wika?” ucap
Iky lagi ketika membaca paragraf suratku.
Maaf, maaf dan maaf. Sebuah
permohonan yang takkan pernah cukup untuk aku ucapkan untuk kesalahan ku. Tapi
aku benar-benar mencintai mu, sangat. Jika memang Viola terbaik buat mu maka
pilihlah dia sebagai pendamping mu kelak, aku ikhlas. Tapi jika kau tetap
bersikeras untuk mencintai ku, maka boleh kah aku meminta mu untuk menunggu
lagi??? Tunggu aku menyelesaikan 2 mimpi ku lagi setelah itu jemputlah aku
untuk menjadi istri mu. Kalung ini aku kembalikan pada mu sebagai tanda jika
kau tetap mencintai ku dan mau menunggu ku lagi, datanglah ke rumah ku ketika
aku berumur 25 tahun untuk melamar ku dan pakaikan kalung ini lagi di leherku
sebagai tanda pinangan mu untuk ku. Namun jika kau memang bukan jodoh ku maka
simpanlah baik-baik kalung ini. Biar lah kamu tetap menjadi seseorang yang
pernah ku cintai. Unforgettable First
Love di dalam cerita hidup ku. Sebuah kisah cinta pertama yang tak
terlupakan oleh ku dan kisah ini akan ku ceritakan pada anak-anak ku nantinya.
Terimakasih dan maaf atas segalanya.
Yang
Mencintaimu Wika
“Wika ?” ucap Iky sambil mencium suratku dan meneteskan
air matanya.
“Aku pasti akan menunggumu, akan ku jemput kau ketika kau
berumur 25 tahun. Aku tau kau pergi ke Kanada untuk meraih mimpi mu, aku tau
itu. Aku juga tau kau sebenarnya mencintai ku, aku tau itu Ka. Aku tau bahwa
perasaan ku tidak pernah salah mencintai wanita seperti mu. Aku pasti akan
menunggu mu karena aku mencintai mu,” ucap Iky dengan tangisan bahagianya
mendapatkan kejelasan yang selama ini ia pertanyakan.
Karya ini di upload karena gak memang lomba, wkwkwkkwkwk.
Selamat menikmati sebuah karya pemula yang harus lebih banyak belajar lagi.
Jangan lupa untuk komentarnya gaes sebagai pemasukkan saya dalam tulisan-tulisan selanjutnya.
Terimakasih
